Rabu, 11 Februari 2015

KUMPULAN CERPEN KARYA SANTRI PUTRA PP ALFATAH BANJARNEGARA



KUMPULAN CERPEN KARYA SANTRI PUTRA PP ALFATAH
Part1



BARISANNYA BUKIT BARISAN MENGUKIR SEJARAH DESA CONDONG CAMPUR
Karya   : Muslihun­­­_ Cocam Get'Chs Paris

Desa yang damai terletak di bawah bukit indah sebutan bukit titisan sorga (bukit barisan), setelah datangnya pemberontak (prajurit belanda)  mulai terancamlah desa ini dan kesunyianya telah suram oleh serangan mereka yang tak kenal lelah mencoba merebut desa yang sunyi dengan kedamaian rakyatnya. Tentara yang berada di atas bukit dan masyarakat yang berada di bawah desa condong campur yang membuat tentara itu dengan mudahnya untuk mengalahkan, allah swt. Menjadikan masyarakat desa condong campur yang ‘alim untuk mengalahkan mereka dengan do’a, atas izin allah swt. Batu krikil dan bambu runcing mengalahkan senjata mereka yang kelihatanya tak terkalahkan, tetapi justru sebaliknya senjata mereka yang tak ada gunanya (njowos,blabarblas), senjata batu krikil dan bambu runcing yang di sertai do’a para rakyat yang kuat akidahnya menjadikan “waidza bathostum-bathostum jabbaarin” tentara yang sedang berbaris musnah seketika.
 Setelah selesainya kejadian berlangsung kembalilah bukit yang beraroma surgawi menjadi seperti semula walau tak sepenuhnya, hawa mistis mulai terasa di bukit ini setelah para prajurit berbaris dan tergeletak di tempatnya dan jadilah setan yang menghuni bukit ini, tak heran bukit barisanya para setan ini merenggut nyawa manusia, sebutan bukit barisan/kota setan memang pantas setelah para prajurit yang gila itu gagal memberontak desa ini,
Bukit yang biasa di lalui untuk sampainya desa condong campur kini menjadi pusat konsentrasinya para pengendara kaerna kondisi jalan yang menikung tajam dengan tanjakan yang cukup panjang, semua bisa terkendali dengan do’a karna tentara yang musnah terkalahkan dengan do’a dan pernah ada sesepuh mengatakan “ojo dolalan lan ojo sembrono nang kota setan iku, ndonga’o yen liwat dalan iku”.
Masih banyak keindahan alam yang terdapat di desa ini dengan sejarah yang begitu sulit untuk dituangkan dalam kata-kata dan di gambarkan dengan pemikiran saya.

PENGEMIS YANG MALANG
Karya   : Anam Putra Pasunten

            Pada suatu ketika, ada seorang pengemis yang meminta-minta di sebuah pasar, namun hari itu mungkin bukan hari keberuntungan si pengemis. Tak ada seorang pun yang memberinya uang atau makanan, dia hanya bisa meratapi buruk nasibnya dan melihat orang makan ataupun membeli makanan.
            Pengemis itu sangatlah kelaparan, perutnya merasa sakit yang hebat. Lalu dia pun menghampiri sebuah tempat sampah yang terdapat sisa-sisa makanan. Kemudian datang seorang pria kaya yang menghampirinya, melihat pengemis itu sedang mengais makanan ditempat sampah, pria kaya itu pun merasa iba dan memberinya makanan yang layak.
            Bukan hanya itu, pria kaya itu mengajak sang pengemis ke toko pakaian muslim dan membelikanya sebuah baju koko, sarung, peci, dan peralatan sholat lainya. Kebetulan hari itu hari jum’at, setelah selesai belanja peralatan sholat, kemudian pria kaya itu menyuruh sang pengemis untuk membersihkan diri dan mengajak sholat jum’at bersama. Pengemis itu pun sangat berterima kasih kepada pria kaya tersebut.
            Singkat cerita, ke esokan harinya pria kaya tersebut berkunjung lagi ke pasar untuk mencari sang pengemis, namun betapa terkejutnya si pria kaya, terdengar kabar bahwa  sang pengemis telah meninggal dunia tadi malam karena suatu penyakit yang di derita sang pengemis.

NRIMO ING PANDUM
Karya   : Heru Siswanto Heroes

            Suatu ketika Alloh SWT. Memerintahkan Malaikat Jibril untuk pergi menemui salah satu makhluk Nyayaitu seekor kerbau, untuk menyampaikan kepada si kerbau, apakah senang diciptakan Alloh SWT. Sebagai seekor kerbau.
            Di siang yang panas si kerbau sedang berendam di sungai, Jibril pun mendekatinya, lalu bertanya “Hai kerbau… apakah kamu senang diciptakan oleh Alloh SWT ?”, kerbau pun menjawab “Alhamdulillah, aku bersyukur kepada Alloh yang telah menciptakan aku, dari pada aku dijadikan seekor kelelawar, mandi saja dengan air kencing sendiri”.
            Mendengar jawaban si kerbau, lalu Jibril pun pergi dan mendatangi kelelawar yang sedang tidur didalam sebuah gua. Jibril membangunkan si kelelawar dan bertanya, “Hai kelelawar… apakah kamu senang diciptakan oleh Alloh SWT ?”, kemudian kelelawarpun menjawab “Alhamdulillah, aku bersyukur kepada Alloh yang telah menciptakan aku, dari pada cacing badanya kecil, hidupnya ditempat yang jorok, jalanya pake perut lagi”.
            Seperti tadi, setelah mendengar jawaban dari si kelelawar, Jibril pun pergi dan mendatangi seekor cacing, hal yang sama seperti kerbau dan kelelawar, cacing pun di beri pertanyaan oleh Malaikat Jibril “Wahai cacing apakah kamu senang diciptakan Alloh SWT ?”, layaknya seperti kerbau dan kelelawar cacingpun menjawab “Alhamdullilah, aku bersyukur diciptakan sebagai cacing, dari pada sebagai manusia. Apabila mereka tidak punya iman yang sempurna, beriman kepada Alloh, dan beramal sholeh didunia, kelak ketika mereka mati, mereka akan dihukum sesuai dengan perbuatannya, dengan ancaman neraka”.
            Dari cerita tersebut dapat di simpulkan maknanya, kita sebagai manusia harus selalu bersyukur akan semua karunia yang diberikan Alloh kepada kita, syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah… tetap jalani hidup ini… melakukan yang terbaik… kuatkanlah iman kita, taatlah kepada Alloh SWT. Insyaalloh surga jaminannya… bukan neraka tempat menyiksa.

ASAL USUL DESA TLAGA ABANG
Karya : Aminulloh Cah mBatur

Dahulu di kota batur ada sebuah telaga yang airnya berwarna merah, namun sayang belum banyak yang tau tentang telaga itu.
Namun ada seseorang bilang jikalau setiap hari jum’at hewan – hewan berkumpul mengelilingi telaga itu.
Di sebelah telaga itu ada sebuah desa. Karena letaknya berdekatan dengan telaga itu, maka desa itu di namai Desa Telaga Merah. Namun, karena di daerah batur yang seharusnya Telaga Merah menjadi Telaga Abang
Tetapi sekarang telaga itu telah menjadi cerita karena telah tertimbun longsor setengah gunung
Itulah asal mula Desa Telaga Abang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar